Yakin Pada Keyakinan Diri


Bismillahirrohmaanirrohim.. Mungkin pada judul tulisan ini sedikit membingungkan ya, “apaan sih yakin pada keyakinan diri itu?”. Nah, sebelum saya mulai menjawabnya, saya ingin bercerita sedikit yang mungkin nanti bisa memberikan sedikit gambaran tentang judul postingan ini. Memang cerita ini bukan cerita dari saya, tetapi cerita yang saya dapatkan dari seorang ustadz/guru dan sekaligus rekan kerja saya.

Suatu ketika ada seorang pemuda sedang berjalan-jalan di taman bersama seekor kucing peliharaannya. Ia tahu betul bahwa kucing kesayangannya itu memiliki suara yang merdu, ia pun duduk disebuah kursi yang telah disediakan ditaman itu. Ketika duduk, datang seseorang yang kemudian berkata “eh, Anda bawa anjing ya?”, belum sempat dijawab, seseorang itu kemudian langsung beranjak pergi. Tidak berselang lama kemudian datang pula seseorang yang lain dan berkata hal yang sama “Anda bawa anjing ya?”, dan berlalu begitu saja. Dan hal itu berulang-ulang sampai 10 orang berkata hal yang demikian bahwa yang dibawanya itu adalah seekor anjing. Kemudian yang jadi pertanyaan ialah, apakah pemuda itu lantas berpikir ulang “Apa iya yang saya bawa jalan-jalan ini seekor anjing? atau seekor kucing?”

Jika pemuda itu yakin pada apa yang ia yakini (bahwa itu adalah kucing, maka tiadalah perlu bagi pemuda itu untuk bertanya dalam hati tentang kepastian binatang peliharaannya itu). Jika sedari awal ia memang tidak percaya pada keyakinannya, maka pastilah ia akan mulai ragu dengan pernyataan 10 orang yang lalu-lalang mengatakan bahwa itu adalah anjing, bukan kucing.

Maka tak heran apabila saat ini banyak sekali media-media (cetak/sosial maupun media elektronik lainnya) yang isi beritanya seakan-akan jauh dari apa yang kita yakini sebelumnya. Karena memang, “siapa yang menguasai informasi maka ia akan menguasai dunia”. Tak heran pula banyak sekali hal-hal yang kita yakini itu salah, kini media (berusaha) membenarkannya, seperti #LGBT misalnya.

Jika kita yakin bahwa #LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender) itu perbuatan salah, sepandai dan secantik apapun argumen-argumen yang dilontarkan oleh media ataupun orang-orang pendukung #LGBT, maka kita tetaplah yakin bahwa #LGBT itu penyakit.

Tetapi jika kita mulai berfikir kembali tentang kebenaran #LGBT itu, maka kesimpulannya ialah memang sedari awal kita tidak yakin bahwa #LGBT itu penyakit.

#LGBT adalah salah satu contoh saja, dan masih banyak lagi yang lain. Maka kuncinya ialah, “yakin pada apa yang kita yakini”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.